Selamat Datang Di Bandith Hacker
Nikmati Berbagai Fitur Serta Thread Yang Kami Sediakan Untuk Agan² Semua !!!

bagi anda yang belum memiliki ID..
anda bisa melakukan REGISTRASI di Link ini

DAFTAR



 
ForumIndeksPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?

Chat Box
Web/Forum Sponsored
Top posters
baek_hati (510)
 
ndhadoank (75)
 
drie88 (72)
 
bandith (48)
 
yosua (29)
 
-|HaNg|-|UpiN|- (27)
 
kidoidoank (24)
 
moceptidakmati (15)
 
azyeex (14)
 
bandith_bie (10)
 
September 2017
MonTueWedThuFriSatSun
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 
CalendarCalendar
Social bookmarking
Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  

Penanda dan berbagi alamat bandith Hacker di situs bookmarking sosial Anda
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Anda AdaLah Pengunjung Ke
Free Statistics Counters
Free Domain
CO.CC:Free Domain

Share | 
 

 Perjamuan Macan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
baek_hati
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 510
Join date : 03.08.10
Age : 30
Lokasi : Tembung City

PostSubyek: Perjamuan Macan   Mon Aug 09, 2010 2:14 am

Tahun 1686
Kota datar yang dipagar gunung-gunung itu terlihat kekar. Merbabu dan Merapi di batas barat beraura mistis dengan lengkung asap yang menjemba angkasa. Di ujung timur laut, puncak Lawu menyembunyikan kakinya, berenang di laut kabut.

Inilah Kartasura… tanah anugerah dan keajaiban. Para pedagang, di subuh buta telah tumpah di jalan-jalan, menuju pasar di dekat alun-alun, berseberangan dengan keraton yang dipagar benteng-benteng kayu jati yang materialnya disokong oleh para kalang dan gowong dari hutan-butan perawan. Kukuh!

Penghuni kota datar ini memulai pagi dengan wajah berkabut, seperti gunung-gunungnya yang tak kunjung lepas dari belitan pedhut . Namun, jika cermat diperhatikan, taburan penduduk yang memenuhi pasar di pagi itu membaurkan beberapa ras manusia yang berbeda. Paras murung Jawa. Lantas, beberapa wajah Eropa dengan mata biru dan berhidung mancung, dilengkapi tubuh jangkung. Beberapa orang dengan pakaian khas Bali; melengkapi pembauran yang unik ini. Mereka adalah pengikut-pengikut Surapati yang mengabdi kepada Sunan. Itu berlangsung semenjak mereka berikrar untuk mengakhiri petualangan, berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengacau, dan menemukan labuhan yang tepat untuk bernaung dari ancaman Kompeni. Kartasuralah naungan itu.

Lantas, yang paling berbeda—tentu saja setelah Kompeni—adalah keberadaan wajah Melayu bersahaja di tengah pikuk manusia itu. Tulang-tulang rahang yang kukuh. Bola mata tajam dan siap berperang. Mereka telah menyeberangi laut luas, menaklukkan ombak dan badai taifun. Mereka orang-orang Makassar yang sejak jatuhnya kerajaan ke tangan Belanda, memilih berkelana. Dendam terhadap orang-orang pendatang itu serasa berakar dan memperoleh tempat tumbuh di Kartasura ini, sebuah wilayah di seberang pulau namun memiliki sentimen yang tinggi terhadap pihak yang sama. Rasa berkawan. Itulah alasan mereka berada di Kartasura, memutuskan menetap dan berikrar setia kepada Sunan sepanjang Sunan tidak tunduk kepada Belanda.

Pasar dan keraton itu terpisah oleh alun-alun luas dengan pohon beringin besar di garis tepinya. Dan di sebelah pasar, berlawanan dengan alun-alun, berdiri dengan ‘gagah’ sebuah loji Kompeni. Loji ini diperoleh izinnya di masa lalu setelah Sunan tertekan oleh berbagai pemberontakan; Trunojoyo, Raden Kajoran, Laskar Makassar, Pangeran Adipati Anom, Wanakusuma, dan berbagai pemberontakan lain yang memaksa Sunan ‘menerima’ tawaran amunisi logistik berikut tentara dari Kompeni, dengan kompensasi sebuah loji, berikut beberapa hak istimewa yang di kemudian hari menjadi titik pertikaian kedua pihak.

Tanah yang tersedia untuk loji itu sedemikian luas. Tidak ada gedung-gedung yang terbuat dari batu karang. Hanya sebuah ‘gubuk’ kecil yang tak cukup menampung 48 orang. Pagarnya pun terbuat dari bambu yang telah lapuk. Tak cukup pantas bahwa di dalamnya tersimpan lebih dari sepuluh meriam.

Johannes Cops—si Tuan Baik Hati—yang sebelumnya menjabat residen Jepara memang beranggapan Kartasura bukan daerah yang berbahaya. Sejak pengangkatannya sebagai komandan di wilayah tersebut pada tahun 1682, ia tak kunjung memperbaiki penampilan benteng yang menyedihkan itu. Sebab pertama karena ia berhaluan etis sehingga cara kekerasan bukanlah prioritasnya.

Dan karena itu, ia tak merasa perlu atas keberadaan tentara maupun senjata dalam jumlah ‘wah.’ Sebab kedua karena sepanjang awal kariernya, ia disibukkan dengan aktivitas meneliti pembukuan pejabat sebelumnya; hal mana membuat ia mengerti sumber-sumber kebangkrutan VOC, yakni tingkat korupsi yang membubung hingga ke langit. Dan temuan inilah yang membuat ia memutuskan untuk mengurangi berbagai sektor ‘pemborosan’, termasuk salah satunya keberadaan tentara dan
para pengawal yang ‘tak begitu berguna.’

Lantas, oleh Pemerintah Agung, Cops diturunkan dari jabatan, digantikan Johannes de Hartough. Kebijakannya dimulai awal tahun 1685, terbilang cukup keras dibandingkan pejabat sebelumnya. Sikap yang keras ini, tanpa ia sadari, telah membangkitkan kembali sentimen yang pelan-pelan mulai pudar di tanah Jawa. Kebijakan yang telah menyulut kembali api yang telah lama mengarang. Kebijakan-kebijakan itu di kemudian hari berimpit dengan perintah-perintah dari Betawi yang menghendaki penataan administrasi dan mengulang perjanjian dengan Sunan, dan Pemerintah Agung Kompeni mengirimkan orang kebanggaannya yang telah mengukir sukses di peperangan melawan Makassar, Kediri, dan sisa-sisa Kerajaan Majapahit.

Awal Februari 1686….
Pendopo istana Kartasura.
Sri Susuhunan tampak merah wajahnya, berdiri di atas sitinggil. Para punggawa dan pejabat kerajaan bercampur dengan kehadiran beberapa vasal setia Sunan, tampak terbawa aura kemarahan Sunan tersebut. Berita yang mengejutkan itu tiba beberapa saat yang lalu.

“Jadi, Kapten Tack telah tiba di Semarang?”

“Benar, Sinuhun,” jawab Patih Nerangkusuma seraya mengaturkan sembah. “Kapten Tack telah tiba di Semarang berikut tentaranya, disertai pula oleh Luitenant Greving.”

Di singgasananya, Sunan mengepalkan jemari hingga saling bergemeletuk. “Apa yang dia mau?”

“Tentu saja untuk memadamkan kraman, Gusti,” sahut Cakranikrat, penguasa Madura yang masih juga bermimpi mendirikan negara di timur Pulau Jawa, merupakan salah seorang vasal Sunan. “Sebab, Pemerintah Agung mengetahui bahwa bandit-bandit telah bernaung di bawah Gusti Sinuhun.”

“Surapati yang kaumaksud?” tanya Sunan.

“Benar, salah satunya. Berikut juga orang-orang Bugis dan penganut Wanakusuma. Itu hemat hamba. Sebab, seperti saya sampaikan kepada Gusti sebelumnya, kebijakan Gusti untuk menerima Surapati mengabdi kepada keraton adalah keputusan yang berisiko.”

“Agaknya saya perlu mengoreksi, Sinuhun,” potong patih Nerangkusuma, tidak setuju dengan pendapat Cakraningrat. “Bahwa kita perlu mawas, bergabungnya Surapati telah memberi banyak keuntungan. Surapati telah membuktikan jasa-jasanya; menumpas gerombolan kraman di perbatasan, meningkatkan stabilitas keamanan negara, mengurangi banyak biaya yang seharusnya dikeluarkan keraton untuk menghadapi pengacau itu.”

“Tapi, Surapati menyimpan permusuhan masa lalu dengan Kompeni,” Cakraningrat tak mau kalah. “Sebesar apa pun jasanya, dan walaupun Kompeni mengetahui ia salah satu vasal Sunan, mereka tak mudah melupakan penyerangan dan pengkhianatan bandit itu.”

Sunan mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi, benar Kapten Tack mempermasalahkan keberadaan Surapati dan lasykar Bali itu di sini, dan menghendaki keraton memutuskan hubungan dengan mereka?”

“Benar, Sinuhun. itulah yang saya dengar dari beberapa informan saya, telah diperbincangkan Kapten dengan Luitenant Greving.”

“Belum ada kejelasan tentang itu Sinuhun,” tukas Nerangkusuma. “Sinuhun hendaklah berpikir dengan jernih. Bisa jadi hal ini adalah muslihat Raden Cakraningrat akibat ketidaksukaannya kepada orang-orang Bali, dan memang begitu kenyataannya.”

Paras Cakraningrat merah padam. “Saya memang tidak suka dengan orang-orang Bali itu, Kanjeng Patih. Tapi, apa yang saya sampaikan ini benar-benar terjadi.”

“Tak ada bukti sedikit pun. Kita belum menerima surat dari Kapten Tack sehubungan dengan hal ini.”

“Kau selalu membela orang-orang Bali karena kau memiliki garis keturunan dengan mereka. Tapi, ini masalah negara. Masalah rakyat!” tandas Cakraningrat.

“Ya, saya tahu apa yang kaupikirkan, Raden. Kau memanfaatkan kedatangan Kapten Tack untuk menyingkirkan orang-orang Bali dan Makassar. Lantas, jika mereka berada di lingkar luar keraton, Kompeni akan semakin mudah memecah-belah kekuatan bumiputera. Kartasura tak lagi memiliki pendukung mumpuni yang mampu menyatukan hati rakyat dalam satu upaya mempertahankan harga diri.”

“Harga diri?”

“Ya… harga diri. Belajarlah tentang harga diri, jangan terlalu murah kau jual kepada para Kompeni.”

“Apa maksud Kanjeng Patih?”

“Saya tahu, Raden, kau mengincar sebuah jabatan. Kau menginginkan orang-orang yang sok kuasa itu membangunkan pilar-pilar untukmu. Bukankah singgasanamu berimpit dengan loji Belanda di Surabaya, dan kau khawatir jika tak mengikut kemauannya, istanamu akan diratakan dengan tanah?”

“Cukup…!” bentak Sunan seraya mengangkat tangannya. Murka. “Kalian hendak beradu mulut di tengah paseban? Sungguh tak tahu diri.”

“Maafkan hamba, Sinuhun!” ucap keduanya bersamaan.

“Tidakkah kalian berpikir bahwa hal besar sedang menunggu di hadapan kita?”

Sunan semakin mengepalkan tangannya dengan geram.
“Apakah Gusti mengkhawatirkan peperangan?” tanya Nerangkusuma seraya mengangkat sembah. “Jika Kapten menghendaki lasykar Bali serta Makassar diusir dari keraton, Gusti bisa mengupayakan permakluman. Paling tidak, saat ini, merekalah pihak-pihak yang telah mengokohkan keraton, meningkatkan wibawa keraton di mata rakyat berikut Kompeni. Jadi, masih sangat terbuka jalan menghindari peperangan.”

“Atau, jika tidak bisa dimintakan permakluman,” sambung Cakraningrat, “Gusti bisa menempatkan Surapati di luar daerah keraton. Ini tentu lebih aman, sebab Kapten Tack sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang lasykar Makassar. Hanya Surapati dan lasykar Bali saja yang dia permasalahkan, dan ini disebabkan dendam lama Kompeni.” Diam sejenak. “Bukankah,” lanjutnya, “tentara Surapati tak lebih dari seratus orang? Itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada keraton. Tuanku masih memiliki 300 tentara Sampang, dan ratusan orang Bugis.”

“Tapi, tidak ada yang melebihi kharisma Surapati di mata rakyat, Gusti.”

“Tidak!” bentak Sunan yang diikuti saling pandang antara Nerangkusuma dan Cakraningrat. “Bukan masalah itu yang kukhawatirkan.”

“Lantas, apa gerangan yang merisaukan Gusti?”

“Ia datang tak lebih untuk mengambil uang kita. Kalian tahu, Kartasura telah berutang sebanyak tiga ratus kali seribu rijksdaalders . Berpikirkah kalian, dari mana kita akan membayar utang pajak sebanyak itu? Kita jelas tak akan mampu membayarnya. Oh… andaikan dulu aku tidak terikat perjanjian dengan mereka. Sekarang, mereka datang dan akan membawaku, menjualku sebagai budak.”

Wajah Sunan tampak letih. Beban pikirannya begitu berat.
“Kita masih bisa memikirkan jalan keluarnya, Sinuhun!”

“Adakah jalan keluar?”

“Selalu ada jalan keluar, sepanjang kita percaya. Ada banyak pihak yang mendukung keraton. Kalau kita jeli mengamati situasi dan mampu mengendalikan berbagai kekuatan yang bertikai, bukan tidak mungkin justru keraton akan memperoleh keuntungan besar.”

“Pikirkanlah cara itu. Aku tak bisa berharap banyak dari para vasal. Bahkan, pada pihak agamawan. Kalian tahu sendiri, suratku kepada raja Minangkabau belum juga mendapat tanggapan hingga sekarang. Tak ada lasykar yang dikirimkan ke sini untuk membantu membendung perluasan pengaruh Belanda.”

Dan, paseban hari itu ditutup dengan muram. Masing-masing pulang dengan beban pikiran yang mencegah mata lelap hingga jauh malam.

***

Majasanga berada di timur laut Surakarta. Tempat landai dengan sedikit bukit. Angin berembus perlahan, ditingkahi gemericik sungai Bengawan Solo.
Tibalah rombongan besar Kapten Tack di sana. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Semarang, lelah sungguh melekati setiap sekat tulang.
Tapi, mereka tak segera menuju Kartasura. Sebagaimana berita yang telah tersebar, Kapten Tack menghendaki keraton telah dibersihkan dari Surapati dan kelompoknya saat dirinya tiba.
Karena itu, mereka membangun perkemahan di wilayah yang masih termasuk dalam daerah Surakarta itu.

Keraguan itu sekonyong-konyong menyergapnya, atas tiadanya tindakan Sunan sebagaimana yang ia harapkan.

“Tak mungkin Sunan menolak,” tegasnya sendiri. “Sunan akan berhadapan dengan Pemerintah Agung jika berani menolak hal ini. Aku ingatkan padanya agar menghormati hubungan baik dengan pihak Kompeni. Pemerintah Agung berkehendak memperbaharui perhitungan hutang-piutang, mengokohkan perjanjian-perjanjian sebelumnya dan membina kerja sama yang saling menguntungkan. Tak boleh tidak, Sunan harus menyerahkan Surapati. Ini perintah langsung dari Pemerintah Agung.”

“Tapi, Tuan, sejauh ini lasykar Bali masih leluasa berkeliaran di keraton. Agaknya, kali ini Sunan memiliki keberanian untuk mengangkat muka di hadapan Tuan.”

“Ini tidak bisa dibiarkan. Sunan harus menyerahkan Surapati, atau atau istananya kita lantakkan. Aku akan mengontak De Hartough di loji agar menyiapkan sepuluh meriamnya.”

“Ya, jika demikian, mengapa Tuan tidak langsung menuju loji saja, dan menyusun kekuatan di sana?”

“Bah! Apa kau tidak lihat, Greving! Loji itu hanya cukup untuk kandang kuda. Bedebah memang, kenapa De Hartough tak kunjung memperbaiki loji itu sehingga layak untuk pertahanan?”

“Kartasura tidak segenting daerah lain, Tuan. Belum diperlukan tentara penjaga dan benteng dari batu karang.”

“Itu sebelum ada Surapati, Goblok! Tidakkah De Hartough bisa mengambil keputusan sebelum terlambat?”

“Itu akan segera diperbaiki setelah Anda menyampaikannya kepada Tuan Residen. Beliau tentu tidak akan menunggu perintah kedua untuk membangun loji itu.”

“Bah! Sekarang bagaimana? Bagaimana kalau Sunan tak kunjung menunjukkan itikad baik untuk menyerahkan bandit-bandit itu?”

“Serang! Bumihanguskan! Tak ada pilihan lain.”
Kapten Tack mengangguk-angguk, merasa puas. “Itu yang kuharapkan!”

***

Malam lengang di Majasanga. Obor-obor menyala di sekitar perkemahan tentara Tack dengan beberapa lasykar memanggul senapan tampak waspada berjaga. Kabar yang tersiar, seorang tamu utusan Sunan tengah berada di dalam kemah Sang Kapten.
Itukah utusan yang ditunggu, sebagai pertanda bahwa Sunan berkehendak menyerahkan Surapati? Tak bisa dipungkiri, kendati bersenjata senapan, para tentara Eropa ini lebih menyukai tidak pecah perang. Peperangan selalu menciutkan nyali mereka, karena harus berhadapan dengan orang-orang yang gila kematian dan seperti tak kenal menyerah. Dalam beberapa kali peperangan yang mereka lalui, orang-orang Jawa bergerak bagai hantu; muncul dan menghilang tiba-tiba. Yang ditinggalkan hanya mayat dan luka-luka. Belum dengan lasykar Bali yang legendaris itu, yang tentu tak segan menggelar perang puputan.
Untuk itu, debar-debar dada mereka sama berharap ke satu hal, munculnya utusan Sunan meminta jalan damai, mengikuti kemauan sang Kapten untuk menyerahkan Surapati. Dengan demikian, perang bisa dicegah.

Beberapa waktu sebelumnya, telah datang utusan Sunan ke Majasanga meminta permakluman Kapten tentang keberadaan Surapati di keraton. Namun, agaknya bagi Kapten Tack, keputusan telah mati untuk si bandit itu; tak ada pengampunan.
“Aku tidak akan bodoh dengan memercayainya kembali,” bentak Kapten Tack saat itu. “Dulu, Kompeni memercayainya dan memberinya senjata, namun ia menikam dari belakang, menewaskan puluhan tentara pilihan, lantas memutuskan membuat kraman. Tidak! Tidak akan aku ampuni dia.”

“Tapi, Surapati telah menunjukkan itikad baiknya kepada Sunan. Ia membasmi kaum kraman di wilayah pinggiran .”

“Sunan kalian boleh saja percaya pada bandit itu, tapi aku tidak. Sekali-kali tidak.”
Ketegangan memuncak. Semula, Sunan bersikeras mempertahankan Surapati tetap pada tempatnya. “Bagaimanapun, Tuan, Sunan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Surapati. Boleh dibilang, Sunan berhutang jasa kepadanya. Lagipula, di
mata Sunan, Surapati adalah vasal yang setia dan disegani.”

Sayang, Tack tetap pada pendiriannya. Lantas, menghadapi kepala batu Tack, Sunan mencoba merayu dengan cara lain. Perdagangan tekstil yang sedang memuncak belakangan ini ditawarkan. Ini pun rupanya tak cukup meluluhkan hati sang Kapten.

Kini… utusan kedua datanglah. Akankah ini membawa pertanda baik bagi hubungan kedua belah pihak? Akankah ini mampu menyirap amarah Tack dengan kesediaan menyerahkan Surapati?

Cakraningrat, utusan itu. Telah lama ia memiliki sentimen dengan pihak Surapati dan lasykar Bali yang memenuhi pinggir luar keraton Kartasura. Perselisihannya dengan Patih Nerangkusuma juga bukan lagi berada pada tataran yang wajar perselisihan antara dua punggawa istana. Perselisihan itu telah mengarah para sentimen ras dan kesukuan, karena Nerangkusuma memiliki hubungan kerabat dengan orang Bali. Barangkali juga oleh kenyataan bahwa Sunan lebih menghargai Surapati daripada Cakraningrat sendiri, kendati kedudukan keduanya sama sederajat di hadapan istana.

Telah luluhkah hati sang Sunan dan bersedia menyerahkan Surapati, dengan mengutus Cakraningrat ini?
Kedua orang itu kini tengah saling duduk berhadapan.

“Bagaimana keputusan Sunan? Bersediakah Sunan menyerahkan Surapati dengan tangan terikat sebelum aku memasuki Kartasura?”
Cakraningrat menyampaikan hormatnya. “Dalam hal ini, telah dimaklumi bagaimana hubungan antara Sunan dengan pihak Surapati. Jadi, wajarlah jika beliau berkeberatan untuk menyerahkan Surapati dan pengikutnya kepada Anda.”

Serentak, wajah Kapten Tack bersemu merah. Ia telah menduga jawaban seperti ini, namun tak urung kemarahannya tak terkendali.

“Jadi, kalian memilih perang? Kalian tidak melihat bagaimana terlatih pasukanku, berikut sepuluh meriam di loji Belanda yang siap melantakkan benteng kayu jati kalian?”

Sekali lagi, Cakraningrat mengaturkan hormatnya. “Tidak demikian halnya yang dikehendaki oleh Gusti Sunan.”

“Jadi, apa?”

“Sunan masih memandang hubungan baik keraton dan Kompeni, di masa-masa lalu dan yang akan datang,” jura Cakraningrat. “Akan tetapi, menyerahkan seorang vasal kepada Tuan adalah sebuah tindakan yang memalukan. Ini akan menurunkan wibawa
Sunan di mata rakyat. Kepercayaan rakyat kepada Sunan akan hilang.

Apalagi, dalam hal ini, Surapati tidak sekadar vasal yang tepercaya. Di mata rakyat, nama Surapati begitu berimpit dengan kepercayaan mistis, semangat spiritual yang magic. Surapati adalah simbol perlawanan terhadap kaum kafir—sebagaimana demikian mereka menyebut Tuan-tuan—dan membaur dengan semangat jihad—yang saat ini gencar didengungkan oleh kaum agama. Apalagi, saat ini Sunan semakin dekat dengan para ulama. Beliau mulai mendalami agama Islam, berhubungan baik dengan para kiai di Gunungkidul.”
Tack mengerenyitkan keningnya. “Jadi benar berita itu? Sunan kalian bahkan telah melaksanakan puasa Ramadhan selama di Gunungkidul?”

“Benar, Kapten. Beliau juga mulai melaksanakan ajaran Islam yang lima, kendati hingga hari ini belum tergerak untuk berangkat ke Mekah. Malah, beliau mulai membina kerja sama dengan Minangkabau. Dalam hal ini, Surapati cukup memberi legitimisi dan justifikasi untuk rakyat, memercayai kembali Sunan sebagai ratu adil. Jadi, teramat sulit mempertahankan kedudukan Sunan di mata rakyat jika Sunan menyerahkan Surapati kepada Anda.”

“Kalau begitu, kalian memilih jalan kedua?”

“Jalan ketiga, Tuan. Bukan yang kedua.”

“Jalan ketiga? Yang bagaimana yang kalian maksud?”

“Pihak keraton yang akan menyelesaikan masalah Surapati.”

“Membersihkannya? Bukankah….”

“Membunuhnya. Tuan percayalah kepada kami. Ini akan lebih mudah bagi Sunan daripada menyerahkannya kepada Anda, di mana berisiko lunturnya kepercayaan rakyat dan kaum agama. Untuk alibi Sunan, bisa saja Surapati dijebak dalam keadaan yang memungkinkan ia memberontak kepada keraton, dan dengan dalih itulah maka Sunan akan menghabisinya. Nama Sunan bersih di mata rakyat, para ulama, dan raja Minangkabau.”

Kapten Tack mengangguk-anggukkan kepala. “Bisakah itu aku percaya?”
“Saya jaminannya. Saya yang akan memimpin pembasmian kaum bandit itu.”

Tack tersenyum, lantas tertawa terbahak-bahak. “Begitu? Kalau benar, segera buktikan kalian menangkap dan membunuh Surapati.”

“Bersabarlah, Kapten. Tunggulah dengan tenang di sini.”

“Baiklah, kutunggu kabar baik itu. Aku bisa membantu dengan beberapa pasukan.”

“Tak perlu, Tuan, sebab itu akan menunjukkan ada main mata antara Sunan dengan Kompeni. Jika itu terjadi, maka sama saja hasilnya.”
Tack manggut-manggut. “Baiklah! Lakukanlah semau kalian. Tapi, mintalah juga persetujuan dari De Hartough, sebab dialah residen di wilayah ini.”

Surapati masih di Babarong, di bentengnya, sekitar dua kilometer dari Majasanga.
Suasana di benteng ini tak kalah mencekam. Perihal kedatangan Tack telah banyak diwicara orang. Pun, tentang kengototan Tack menangkap Surapati, karena hal itu adalah poin penting nota penugasannya dari Pemerintah Agung. Semula, orang-orang Bali masih berharap dari pihak Sunan. Akan tetapi, mengingat Sunan telah mengutus Cakraningrat—sebagaimana diketahui, memiliki ketidaksukaan tersendiri terhadap orang-orang Bali—mereka mafhum bahwa kini tak bisa lagi percaya pada perlindungan Sunan.

Beberapa saat yang lalu, telah datang Cakraningrat menyampaikan kabar terbaru. raja Madura itu meminta Surapati menyerahkan diri kepada Tack, memohon pengampunan.

“Orang Sampang itu begitu khawatir kalau wilayahnya akan diambil oleh Kompeni,”
kata Surapati, membincang perihal permintaan Cakraningrat dengan alasan demi itikad baik menjaga hubungan antara Sunan dan Kompeni, menghindari peperangan yang tentu akan merenggut banyak korban. “Wilayahnya di Madura itu berhadapan
langsung dengan loji Belanda di Surabaya.”

“Itulah yang membuat ia berusaha selalu menjadi anak manis bagi Kompeni, Gusti.”

“Andai saja bukan karena ingin menghindari peperangan dan korban yang lebih banyak, tak mau rasanya aku mengikuti sarannya.”

“Jadi, apakah Gusti benar akan menyerahkan diri?”

“Sunan menjamin akan memintakan pengampunan. Penyerahan diri ini semata taktik agar Belanda tidak mencurigai kita. Jadi, untuk sementara, biarlah semacam itu.
Kelak, saat kekuatan telah terkonsolidasi, kita bisa pikirkan tindakan lain. Untuk saat ini, rasanya semua itu tak mungkin.”

Kedua pembantu setianya itu menggeleng-gelengkan kepala, meragukan tindakan yang akan diambil oleh pemimpin mereka itu, sekaligus meragukan itikad baik Sunan.

“Percayalah… semua akan baik-baik saja. Kita serahkan saja kepada Tuhan. Dia tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya tersia-sia.”

Mendadak, masuklah seorang prajuritnya memberitahukan datangnya Patih Nerangkusuma.
“Kanjeng Patih?” Wajah Surapati mendadak cerah. “Persilakan dia masuk.”

Patih Nerangkusuma disambut di ruang utama. Tampaklah oleh sang Patih bagaimana benteng itu begitu tenang, tak ada kesibukan sedikit pun. Persenjataan tetap pada tempatnya, seakan tidak mengetahui berita kedatangan Tack, dan kemungkinan
pecahnya perang besar dalam waktu dekat.

“Ada apa ini?”

“Saya akan menyerahkan diri untuk kebaikan. Begitu yang dianjurkan Cakraningrat.”
Meradanglah Nerangkusuma. “Menyerahkan diri? Apa-apaan kau? Apakah Cakraningrat telah membujukmu untuk menyerahkan diri, sedangkan kepada Tack dia telah menjanjikan kepalamu?”

“Apa?”

“Kau tidak mengerti. Ini muslihat. Cakraningrat membujukmu untuk menyerahkan diri, mengatakan bahwa Sunan menjamin keselamatanmu dengan meminta permakluman kepada Kompeni, sedangkan dia telah berencana hendak menjemputmu dengan 4.000 prajurit ke Majasanga. Percayalah padaku, kau akan ditusuk sebelum sampai di Majasanga, dan kau tidak bisa meloloskan diri dalam kawalan 4.000 lasykar Sampang dan Mataram.”

Surapati membesi. “Itukah yang ia rencanakan?”

“Ya. Dan dia akan menjemputmu besok di sini. Dia menjanjikan kepada Tack akan menyerangmu, tapi mana berani ia menyerang tanpa muslihat? Ia ingin memisahkanmu dari pasukan dan senjata. Ia tak ingin menghadapi kesulitan untuk membunuhmu. Apakah kau akan menyerahkan dirimu pada kematian?”

“Jadi, perihal saya harus menyerahkan diri kepada Tack, bukanlah prakarsa Sunan?”
Nerangkusuma menggeleng.
“Dan berarti… tidak ada jaminan Sunan atas saya?”
Kembali menggeleng.
Surapati mengepalkan tangannya. “Jadi, apa yang harus saya lakukan? Apakah Sunan tidak berniat melindungi saya dari orang Belanda itu?”
Nerangkusuma menghela napas panjang. “Duduklah sejenak. Keadaan memang serba tidak baik. Akan tetapi, kita harus bermain cantik agar memperoleh keuntungan dan lepas dari keterjepitan ini. Kita harus menyusun siasat untuk dapat keluar dari keterjepitan ini sambil memperkecil kerugian.”

Surapati mencoba menguasai amarahnya. “Apa yang hendak Gusti lakukan?”
“Paling tidak, satu hal yang perlu kau tahu, kedatangan Cakraningrat ke Majasanga telah berhasil mencegah gerak maju pasukan Tack. Mereka kini menunggu hasil ‘serangan’ orang Sampang itu.”
Surapati mengepalkan tangannya. Sebersit rencana segera terbit di kepalanya.

***

Pagi pecah….
Benteng Babarong telah lama terjaga. Sepanjang malam, persiapan telah dilakukan dengan cermat. Orang-orang Bali telah bersiap dengan kain putih mengikat kepala, menyiapkan perang puputan. Telah pula dipersiapkan tempat-tempat untuk meloloskan diri dari kepungan seandainya hal itu memungkinkan untuk siasat pertahanan, memperpanjang napas perlawanan. Surapati telah mengantisipasi kedatangan Cakraningrat berikut 4.000 pasukan Sampang dan Mataram yang akan menjemputnya.

Dan… rombongan penuh nafsu itu datanglah. Mereka menggedor benteng. Surapati membukanya dengan pakaian kasatrian. Kain putih diikatkannya di kepala, dan sebuah keris berluk terselip di perut.
“Apa maksudmu, Surapati?” tanya Cakraningrat. “Letakkan senjatamu dan kita menghadap Kapten Tack.”

“Aku tidak mau.”

“Hei… kau melawan perintah Sunan? Bukankah ini telah menjadi kesepakatan kita kemarin? Kau harus berpikir panjang untuk kebaikan semua pihak.”

“Ya, dan bukan untuk kebaikanmu. Aku tak mau menyerahkan diri kepada Tack.”

“Kau melawan? Siap mati kau rupanya.”

“Bukankah itu namaku? Surapati, mencintai kematian? Aku tidak mau ikut denganmu, menjual harga diri kepada orang-orang kafir.”

“Keparat! Pasukan… tangkap dia!”
Pasukan Sampang itu maju menyerbu. Rupanya, di belakang barisan Cakraningrat yang berjumlah 4.000 orang itu telah berdiri 6.000 tentara Mataram. Jumlah mereka kini 10.000 orang, siap melibas benteng Surapati yang hanya dijaga oleh seratus lasykar Bali.

“Dor…! Dor…! Dor…!”
Tembakan beruntun dari barisan pertama. Serentak, saat mereka menunduk untuk mengisi peluru, barisan kedua mulai menembak. Begitu seterusnya.

Pada gebrakan pertama, delapan lasykar Bali langsung tewas dengan dada berlubang. Di sela hujan peluru itu, jeda-jeda di mana pasukan musuh mengisi kembali senapannya, lasykar Bali merangsek maju. Benteng mereka kokoh untuk menahan serangan pertama. Dan lagi, kegilaan semangat puputan bukan lagi lawan bagi orang-orang rapuh seperti prajurit Sampang dan Mataram.
Tapi, gelombang 10.000 tentara itu bagai tiada habisnya. Maka, bagi lasykar Bali itu, pilihan mundur adalah yang paling realistis. Melalui gerbang belakang benteng sebelah barat, kelompok demi kelompok itu berangsur-angsur menarik diri. Mereka menghambur ke persawahan dan rumah-rumah penduduk, menghilang dalam sekejap mata.

Tentara-tentara itu celingukan mencari jejak yang tersisa. Korban banyak jatuh, namun itu kebanyakan dari tentara Mataram dan Sampang sendiri. Sementara dari pihak Bali, tak lebih dari sepuluh mayat yang tertinggal. Mereka benar-benar hilang, seperti ditelan langit Merbabu di kejauhan. Seperti lenyap menjadi asap, menyatu dengan lengkungnya di puncak Merapi.
Lasykar Bali di bawah komando Surapati jelas lebih memiliki hati rakyat.
Karenanya, dengan sukarela rakyat memberi perlindungan. Jejak-jejak itu dihapus oleh rakyat yang telah muak dengan segala kebobrokan yang melanda negeri ajaib ini.

***

“Apa? Dungu sekali kalian!” teriak Tack. Murka. Di hadapannya kini duduk Wangsayuda, seorang lasykar Bali yang memihak Belanda. Darinya Tack memperoleh laporan kegagalan Cakraningrat menangkap Surapati.

“Mereka terlalu tangguh, Tuan. Lagipula, daerah itu milik mereka sehingga mereka tahu detail lokasi serta tempat-tempat melarikan diri.”

“Kenapa kalian beri mereka kesempatan melarikan diri? Apa gunanya 10.000 pasukan? Dasar pengecut!”

Kecut wajah Wangsayuda.
“Kalian orang-orang dungu. Atau… barangkali benar apa yang dikatakan Greving, kalian sebenarnya tidak berniat menghabisi Surapati? Kalian menggelar pertempuran semu itu untuk mengecohku, agar aku menyangka kalian benar-benar berniat menyerahkan Surapati.”

“Seribu ampun, Kapten. Hal itu sungguh-sungguh fitnah. Sunan beritikad baik hendak memperbaiki hubungan dengan Tuan. Kesungguhannya dapat Tuan lihat dalam mobilisasi pasukan Mataram. Belumkah itu menjadi bukti?”

“Bukti apa? Kegagalan itukah yang kauanggap sebagai bukti kesungguhan? Sepuluh ribu tentara tak sanggup menggilas seratus orang dalam satu gebrakan. Sungguh tolol.”

“Tuan, pahamilah kesulitan kami. Rakyat lebih memihak Surapati sebab, bagi mereka, bandit itu seorang dewa. Kharisma Surapati begitu melekat dan jalin-menjalin dengan sisi spiritual rakyat. Surapati mampu menyatukan emosi rakyat dalam satu sentimen anti-Belanda, dan itu yang tidak kami miliki.”

“Hanya itukah menurut kalian? Dan kau meminta aku percaya bahwa kalian benar-benar menyerang Surapati?” Tack berkacak pinggang. “Kalau begitu, bisakah kaujelaskan tentang orang-orang Bali Barat dari Kedu dan Gunungkidul yang turut bergabung dalam lasykar Surapati? Kalian benar-benar berkomplot hendak melawanku. Kalian bermain api.”

“Demi Tuhan, ini fitnah, Tuan.”

“Fitnah? Informanku jelas-jelas mengatakan orang-orang Bali berbaju hitam, dan mereka mengenalinya sebagai orang-orang Bali dari Kedu serta beberapa bekas pengiku Wanakusuma. Bagaimana mereka bisa bergabung dengan Surapati?”
Wangsayuda terdiam.

“Ada juga lasykar Bugis dan Makassar. Bisakah kalian jelaskan? Lalu tentang kedatangan Nerangkusuma ke Babarong dan berbuntut pembelotan Surapati? Apa pendapat kalian tentang sepak terjang patih kurang ajar itu? Dan pula, mengapa tiba-tiba pasukan Cakraningrat membengkak menjadi 10.000 lasykar? Bukankah seharusnya ia hanya membawa 4.000 orang?”

“Saya tak berani menjawab, Tuan, sebab saya tak melihat hal itu terjadi. Ada pun, Kanjeng Patih memang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Surapati. Namun, bukankah konyol jika beliau berkomplot dengan bandit itu sedangkan kekuatan
mereka sama sekali tak berharga untuk menghadapi Kompeni?”

“Oooh… tak berharga? Bahkan kau tak mengakui bahwa ‘seratus’ orang mereka baru saja membuat 10.000 tentaramu kocar-kacir?”

“Ini… ini….”

“Sebaiknya, akuilah kalau kalian memang dungu!”

“Tapi, Tuan….”

“Tak ada jalan lain, aku sendiri yang akan memenggal kepala bandit itu. Aku tak percaya kalian benar-benar sepenuh hati hendak menyerahkannya.”

“Tidakkah sebaiknya kita kesampingkan masalah Surapati? Seperti Tuan katakan, Tuan akan menetap di loji jika Surapati telah menyingkir. Mengapa tidak ke sana saja saat ini, Tuan? Tuan Residen tentu bisa berunding dengan Tuan tentang langkah
terbaik untuk menghadapi Surapati.”
Tack tampak mencondongkan tubuhnya. “Menghadapai Surapati? Dari nada kalimatmu, aku seperti menangkap keyakinan bahwa Surapati akan kembali.”

“Dia pasti datang.”

“Begitu? Mungkinkah ia punya nyali?”

“Bukankah dia seorang pendendam yang piawai, Tuan? Tindakan Cakraningrat kali ini atas nama Sunan, tentu telah membuat ia kecewa. Karena itu, ia pasti akan menyerbu istana pada waktu dekat. Ini juga seperti diucapkannya sebelum meninggalkan bentengnya di Babarong, bahwa ia akan kembali membuat perhitungan dengan Sunan.”

“Begitu?”

“Benar. Untuk itu, alangkah baiknya jika Tuan segera ke kota, menyatukan kekuatan dengan pihak residen, dan bekerja sama dengan Sunan untuk menghadang kedatangan Surapati.”

“Hmm….”

“Segeralah berangkat, Tuan…. Masih begitu banyak hal yang harus diselesaikan dan dilakukan.”

***

Sunan Amangkurat II tengah duduk di paseban. Menghadap padanya Patih Nerangkusuma. Tak banyak orang yang hadir di sana hari ini. Hanya beberapa punggawa yang datang melapor menyampaikan keadaan terakhir kota yang kacau.
Sisa-sisa peperangan masih terlihat. Jelas membekas pada wajah panik penduduk yang takut pecah perang lanjutan. Karena itu, demi menjaga dan memulihkan keamanan, lasykar Mataram memperkuat penjagaan. Mereka melibatkan orang-orang Bugis dan Makassar, serta orang-orang Bali yang tersisa, dalam penjagaan gerbang-gerbang istana.

“Atur sembah, Sinuhun!” kata Nerangkusuma. “Sejauh ini, siasat kita berhasil.
Cakraningrat tidak menyadari adanya orang-orang yang disusupkan untuk meloloskan Surapati. Ia tidak tahu bahwa keberadaan 6.000 lasykar Mataram bergabung dalam penjemputan pagi hari itu bukan membuat pasukannya kokoh, namun justru melemahkan.”

“Syukurlah. Dengan begitu, Surapati bisa melarikan diri tanpa kita dituduh bersekongkol dengannya. Mudah-mudahan, hubungan kita dengan para ulama pesisir dan raja Minangkabau tidak menjadi retak. Aku juga masih mengharap dukungan rakyat. Kita tak boleh terus membiarkan Belanda mencaplok satu demi satu tanah Mataram. Kita harus terus mengurangi kekuasaannya di sepanjang pantai utara untuk kembali membuka akses Jawa dengan dunia luar.”

“Memang benar, Gusti. Dan, besok pagi, Kapten Tack akan tiba di loji. De Hartough menyampaikan hal ini kepada saya, tentang surat Greving yang diterimanya tadi pagi.”

“Tuan Besar Kepala itu akan meninggalkan Majasanga?”

“Benar, Tuanku. Adakah yang mengganggu hati Tuan?”

Sejenak, Nerangkusuma menangkap raut murung sang Raja. Tentu saja ia maklumi hal itu. Bagi Sunan, datangnya Tack sama dengan datangnya malaikat pencabut nyawa.
“Hutang-hutangku sungguh celaka. Aku akan dijual sebagai budak. Aduhai, andai aku tak menandatangani macam-macam perundingan dengan orang-orang Belanda itu.”

“Tapi, Surapati akan menyelesaikan masalah ini.”

“Ya, mudah-mudahan saja. Kalau begitu, marilah kita persiapkan upacara penyambutan kepada Tuan Besar Kepala itu. Kita akan menggelar jamuan macan untuknya. Kita akan tunjukkan sirkus macam bebas malam ini. Ya… malam ini. Dengan empat puluh macam liar dari Gunung Merapi.”

“Benar, Gusti! Malam ini! Malam ini!”

***
Sebuah pondok di tengah pemukiman penduduk. Lentera kecil yang masih berkelip-kelip hingga jauh malam itu tak menimbulkan kecurigaan, kendati kota begitu berjaga dengan adanya rombongan-rombongan penjaga.
“Berkat siasat Nerangkusuma, kita berhasil keluar dari keraton tanpa harus membahayakan Sunan. Tack tak punya bukti keterlibatan orang keraton. Dalam hal ini, kita cukup terbantu dengan bodohnya Cakraningrat,” gumam Surapati pada
salah seorang pembantu kepercayaannya. “Ambisi besarnya itu yang membuat ia tak bisa membaca keadaan, tak sadar telah dimanfaatkan. Dan sekarang, kita akan segera menyerang keraton.”

“Menyerang Sunan? Apakah ini bagian dari strategi yang telah diatur Patih Nerangkusuma? Ataukah benar-benar Gusti hendak membalas dendam kepada Sunan?”

“Ya! Ini strategi, agar kita benar-benar terlihat memiliki permusuhan dengan Sunan. Yang kedua, untuk memancing mangsa masuk ke perangkap.”

“Bisakah Gusti jelaskan?”

“Tack yakin kita akan kembali, membuat perhitungan dengan Sunan. Untuk itu, dia kini memasuki Kartasura, dan Sunan menyambutnya dengan perjamuan macan.”
Surapati mengerlingkan matanya.

“Macan? Hahaha… kitakah macam itu.”

“Benar! Kita adalah macan itu. Kita akan menyambutnya di lapangan bebas.
Sekarang, orang-orang bodoh itu telah masuk ke dalam perangkap, dan tak ada tempat untuk lari. Kita akan menyerang ke sana. Patih Nerangkusuma telah menyiapkan orang-orangnya, berikut mengonsolidasikan orang-orang Bugis dan Makassar.”

“Tapi, pasukan Tack tak boleh dianggap remeh.”

“Betul! Pasukan Tack sungguh besar, disertai kelewang dan senjata api yang tak mudah untuk dihadapi. Yang lebih menyulitkan, di dalam loji De Hartough, tersimpan sepuluh meriam. Untuk itu, kita perlu bergabung dengan pasukan Mataram dan Patih Nerangkusuma.”

“Tidakkah ini akan membuat Tack curiga ada main mata antara kita dengan keraton?”

“Tenanglah! Telah disusun sedikit sandiwara.”

***

Tack menerima kedatangan utusan De Hartough dengan amarah meluap. Ia tengah menyiapkan keberangkatannya meninggalkan Majasanga saat utusan itu tiba. Wajah utusan itu pias, merasa berhadapan dengan duta istimewa Pemerintah Agung.
“Segera persiapkan segala sesuatunya!” perintah Tack. “Perbaiki benteng, siapkan meriam, dan atur jadwal jaga dengan lebih rapat.”

“Tapi, Tuan Residen berpesan bahwa ini akan membuat orang-orang Jawa merasa terancam. Sentimen anti-Belanda mereka bisa tersulut dan berkobar lagi.”

“Apa kau tidak melihat, karena kebodohan kalian maka Surapati dan para bandit itu berani unjuk gigi? Kartasura juga mulai berani melawan.”

“Saya rasa tidak demikian. Sunan dan para prajuritnya masih tetap setia seperti semula pada perjanjian.”

“Dasar bodoh! Keraton telah meloloskan Surapati. Mereka tak membiarkan kita membawa Surapati, karena itu mereka membuat sandiwara peperangan itu.”

“Tidakkah ini berlebihan, Kapten? Bahkan, Sunan sendiri yang memerintahkan penangkapan. Karena hal itu pula maka timbul perselisihan antara Sunan dengan pihak Surapati. Keraton kini sedang meningkatkan penjagaan karena Surapati mengancam akan membalas dendam.”

“Kalian percaya omong kosong ini?”

“Tuan Residen juga berpesan, Kapten segera ke Kartasura. Kapten masih sangat lelah, dan lolosnya Surapati semakin membuat keruh pikiran. Sebaiknya Kapten beristirahat terlebih dahulu, barulah menyusun langkah-langkah preventif dengan lebih taktis.”

Kapten Tack mendengus. Jemarinya terkepal. Ia tampak menahan kemarahan yang hampir meledakkan dadanya.

Namun, Kapten Tack tak sempat beristirahat. Utusan berikutnya menyusul tiba, dari keraton, yakni seorang punggawa istana bernama Sindunata beserta serombongan pasukan, yang berniat menjemput Tack.

Tak membuang waktu, Tack segera menyiapkan pasukannya. Mereka segera meninggalkan Majasanga.

***

Sementara itu, di dalam kota, kerusuhan pecah pagi itu. Bunyi tembakan bersahut-sahut dari benteng Babarong.

Benarkah Surapati telah kembali?
Di Banyudana, beberapa ratus meter dari keraton, Tack berpapasan dengan orang-orang Jawa, Bali dan Makassar yang lintang-pukang melarikan diri. Panik.
Agaknya kekacauan membuat mereka menyingkir dari keraton. Greving segera meminta penjelasan dari salah seorang yang melarikan diri itu. Bahasa Jawa.
Tack tentu saja tak memahami dialog antara Greving dengan penduduk itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Tack.

“Terjadi penyerangan, Kapten. Surapati menyerang keraton.”

“Apa? Kalian tidak main-main?”

“Tidak, Kapten,” tukas Sindunata, utusan Sunan itu. “Surapati tak pernah main-main dengan kalimatnya. Kini ia telah membuktikannya.”

“Kurang ajar! Dia berani berulah! Dia tidak tahu kalau aku sudah akan segera memenggal kepalanya. Hitung waktu yang kita perlukan untuk sampai ke kota, itu sisa waktu yang ia miliki. Kalau sampai dia bertemu denganku, tak akan kubiarkan dia hidup. Atau barangkali dia sudah akan lari terbirit-birit begitu mendengar aku tiba.”

“Ampun, Kapten! Dengan tidak bermaksud hendak merendahkan Kapten, agaknya saya harus memisahkan diri dari rombongan ini. Saya harus segera bergabung dengan pasukan keraton, menghadapi serangan Surapati.”

“Apa?” tanya Tack dan Greving bersamaan, mengerenyit heran.
Tapi, tanpa menunggu jawaban mereka, Sindunata segera membawa pasukannya menuju keraton, mempersilakan Tack dan rombongannya langsung menuju loji. De Hartough telah menanti.

***

Sri Susuhunan menyambut kedatangan Tack dengan panik. “Bandit itu telah menyerang keraton,” katanya. “Untunglah, Nerangkusuma dan pasukannya berhasil menghalau.”

“Di mana bandit itu sekarang?” tanya Tack.

“Melarikan diri ke arah timur. Nerangkusuma sedang mengejarnya.”
Beberapa saat, Tack mondar-mandir dengan marah. Ia seperti kehilangan akal saat menyadari kepalanya nyaris meledak. Ia seperti menangkap sesuatu yang tidak beres, namun ia tidak bisa menyimpulkan letak ketidakberesan itu di mana.
Pada saat genting itu, masuklah seorang punggawa keraton, Adipati Urawan, menyampaikan berita yang menggembirakan Tack. “Surapati masih membuat kekacauan di timur keraton. Rumah-rumah dibakar.”

Tack terbakar nafsu hendak membunuh. Semangatnya tampak timbul meluap-luap.
“Jadi, dia belum berlari jauh? Berapa kekuatannya sekarang?”

“Tak ada kepastian, Kapten. Tapi, pasti tak begitu membahayakan sebagaimana sebelumnya. Jumlah tentaranya telah jauh berkurang dalam peperangan tadi, juga saat terjadi bentrokan dengan Cakraningrat beberapa waktu lalu.”

“Bawa aku ke sana! Lekas! Akan kupenggal kepala bandit itu.”

“Bagaimana dengan keamanan loji, Kapten?” tanya De Hartough, cemas.
Sejenak, Tack berpikir. “Baiklah! Aku tinggalkan Kapten Leeman dengan 150 tentara di sini. Jangan lupa, tempatkan pula lima puluh orang di dekat keraton untuk mengantisipasi keadaan. Luitenant Greving yang memimpin. Sisanya, tiga kompi pasukan ikut denganku mengejar ke timur, sebelum mereka semakin jauh.”

Lantas, dengan Adipati Urawan sebagai petunjuk, Tack keluar dari loji. Mereka melintasi pasar dan alun-alun yang telah kacau, menuju keraton, dan berbelok ke kiri melewati Pajang. Asap mengepul di kejauhan, dari rumah-rumah penduduk yang dibakar.

Orang-orang yang panik dan ketakutan saling berlarian ke sana kemari. Bunyi tembakan bersahutan di kejauhan. Tapi, Tack belum juga mengetahui di mana musuh berada. Semua simpang siur tidak keruan.

Namun, tiba-tiba, terdengarlah ledakan dahsyat disusul suara tembakan yang semakin rapat. Asap membubung dari arah barat.
“Astaga…! Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tack panik.

“Keraton kembali diserang, Kapten,” lapor tentaranya yang tiba dengan tergesa-gesa. “Kapten Greving berikut… lima puluh tentaranya disergap di gapura. Orang-orang Bali itu bergerak bagai hantu.”

Tack mengertakkan rahangnya. Rupanya, ia telah terpancing keluar wilayah keraton. Ia segera menyadari bahwa kerusuhan di kampung itu tak lebih dari tipuan belaka. Ia bahkan kini tanpa sengaja telah memecah-mecah kekuatannya sendiri. Ia memerintahkan pasukannya segera kembali. Dan, sekonyong-konyong ia melihat orang-orang berpakaian Bali telah memenuhi kota.
“Gila! Dari mana Surapati memiliki pasukan sebanyak itu?”

Perang terus berlangsung. Tentara Belanda semakin kocar-kacir. Yang lebih menyakitkan, Luitenant Greving ditemukan Tack telah menjadi mayat. Tubuhnya tercabik tetakan pedang dan tikaman keris. Mengerikan! Di sebelahnya saling silang mayat-mayat tentara Belanda yang lain. Belasan tentara telah jatuh.

Kedatangan Tack serentak bersambut dengan menyurutnya tembakan. Letusan semakin jarang terjadi. Berangsur-angsur pasukan Bali itu menarik diri. Mereka menghilang di balik tembok-tembok keraton. Benar-benar bagai hantu.
Naluri perang Tack segera mencium gelagat tak baik. Loji Belanda di seberang alun-alun boleh dibilang tanpa pengamanan.

“Segera pisahkan sebagian pasukan, perkuat pengamanan di loji!”
Bedebah! Mengapa De Hartough selalu mengambil keputusan saat terlambat? Benteng loji yang menyedihkan itu, tidak pantas untuk melindungi tentara. Ia lebih pantas dilindungi. Ada banyak meriam dan amunisi berharga di sana.
Pasukan Tack semakin berkurang, cerai-berai dan masing-masing terputus kontak dengan yang lain. Kini, Tack berhadapan dengan orang-orang yang muncul dan menghilang dalam sekejap. Orang-orang Bali itu benar-benar hantu, bukan saja di malam hari. Siang bolong begini, mereka bergerak seperti kilat, datang dan pergi dalam bilangan detik. Ia melihat orang-orang yang muncul dari balik tembok, dengan pakaian Bali yang… aneh!

Aneh?
Hei… bukankah sekelebat bayangan tadi, yang menikamkan keris pada salah satu tentaranya tadi… adalah….
Jadi benar, ada permainan dalam kerusuhan ini. Orang itu adalah Sindunata, yang pagi tadi datang menjemputnya, dan memisahkan diri setelah tiba di Banyudana.
Pantas saja dia pergi terburu-buru.

Apakah ini juga berarti Nerangkusuma bergabung dengan Surapati? Lantas, di mana Cakraningrat?
Ia tak sempat berpikir. Benteng-benteng itu sungguh keparat. Senapannya tak berfungsi dalam perang jarak dekat seperti ini. Pasukan tombak yang semula mengawalnya, telah memisahkan diri untuk memperkuat loji.

Loji? Mengapa ia berpikir Surapati akan menyerang ke sana, sedangkan orang yang diincar sesungguhnya adalah dirinya? Surapati tak akan menyerang loji. Ia tidak akan membiarkan dirinya lepas setelah masuk perangkap gila ini.
Di kali terakhir, gelombang lasykar Bali dan lasykar ‘berpakaian’ Bali itu benar-benar meremukkan nyalinya. Ia tak mampu menghindar dari tebasan pedang orang-orang yang telah memaklumkan perang puputan. Ia hanya bisa menyumpah-nyumpah dalam kepanikan yang luar biasa, terus menyumpah hingga nyawanya sendiri terbang. Ia menyerahkannya, suka atau tidak suka, sebab tak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri.

***

Tepat saat matahari naik ke puncak kepala, peperangan berakhir. Pihak Belanda kehilangan enam puluh delapan orang tentaranya—banyak di antaranya adalah prajurit-prajurit pilihan seperti Kapten Tack, Luitenant Greving, Sersan Samuel
Maurits, dan banyak lagi.
Sementara itu, dari pihak lasykar Bali, kerugian juga tak bisa dianggap enteng.
Hampir lima puluh orang tewas, termasuk sebagian besar prajurit terkemuka seperti Singabarong, Mangkuyuda, dan sebagainya.

Seusai peperangan, Belanda kembali ke lojinya, mengangkat mayat-mayat dari alun-alun, sembari menyesali kebodohan mereka sendiri. Wajah halus orang Jawa dengan garis mata sayu itu, semakin mereka yakini begitu mahir menyimpan dusta dan dendam kesumat. Mereka telah hidup berdampingan dengan bangsa pendendam itu, namun tak pernah tahu sedalam mana mereka mampu menyimpan bara, hingga meledak menelan semua yang tampak. Mereka menatap Merapi dengan lengkung asapnya yang menjemba angkasa, menyadari bahwa gunung bara itu lebih mudah mereka selami daripada dada orang Jawa.

Sementara, Surapati menyusun kembali sisa-sisa pasukannya. Selepas peperangan, mereka berkumpul di masjid raya yang bagian atapnya terbakar sebagian—bagian dari siasat. Mereka menunaikan shalat, mengucap syukur atas pertolongan Allah,
sehingga mampu memenangkan peperangan menghadapi tentara Kompeni. Selepas Asar, mereka berlalu dari Kartasura. Keraton itu sudah bukan lagi tempat yang tepat untuk bernaung. Panggilan jihad telah menunggu di setiap tempat, di setiap lekuk kota, di setiap relung perkampungan. Mereka akan terus mengobarkan nyalanya hingga batas yang ditetapkan.

Keraton berpesta. Tangan mereka tetap bersih. Sunan kembali menduduki tahtanya. Ia terlepas dari tagihan hutang. Nerangkusuma puas, siasat perangnya berhasil dengan sempurna. Entah, siapakah yang lebih memainkan peran dalam kerusuhan
kali ini; Sri Susuhunan ataukah Patih Nerangkusuma. Yang jelas, mereka boleh bangga bahwa rakyat Mataram bukanlah kurcaci yang boleh diinjak sesuka hati oleh Kompeni. Hingga malam, dari keraton mengalun gendhing Banyu Banjir, gendhing lambang kemenangan. Alunan gamelan itu bersahut-sahut hingga dalem kepatihan.


--------------------
Data-data diambil dari:
Dr. H.J. De Graaf; Terbunuhnya Kapten Tack, Kemelut di Kartasura Abad§ XVII; Grafitipers, 1990.
Dick Hartoko; Bianglala Sastra, Bunga Rampai§
Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (cet-2); Penerbit Djambatan,
1985.
Karel Steenbrink; Kawan dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam§ di Indonesia (1596-1942); Mizan, 1995.
Kembali Ke Atas Go down
 
Perjamuan Macan
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» KUMPULKAN FOTO2 LUCU BIKERS DI SINI!!!

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: puisi / cerpen-
Navigasi: