Selamat Datang Di Bandith Hacker
Nikmati Berbagai Fitur Serta Thread Yang Kami Sediakan Untuk AganĀ² Semua !!!

bagi anda yang belum memiliki ID..
anda bisa melakukan REGISTRASI di Link ini

DAFTAR



 
ForumIndeksPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?

Chat Box
Web/Forum Sponsored
Top posters
baek_hati (510)
 
ndhadoank (75)
 
drie88 (72)
 
bandith (48)
 
yosua (29)
 
-|HaNg|-|UpiN|- (27)
 
kidoidoank (24)
 
moceptidakmati (15)
 
azyeex (14)
 
bandith_bie (10)
 
November 2017
MonTueWedThuFriSatSun
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
CalendarCalendar
Social bookmarking
Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  

Penanda dan berbagi alamat bandith Hacker di situs bookmarking sosial Anda
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Anda AdaLah Pengunjung Ke
Free Statistics Counters
Free Domain
CO.CC:Free Domain

Share | 
 

  sybill

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
baek_hati
Admin
Admin
avatar

Jumlah posting : 510
Join date : 03.08.10
Age : 30
Lokasi : Tembung City

PostSubyek: sybill   Mon Aug 09, 2010 2:32 am

Jam di kamar menunjukkan bahwa hari sungguh tak terlampau pagi lagi. Seperti bagian dari satu upacara yang tiap pagi mesti tak boleh dilampaui, ibu Sybil bergegas mengenakan pakaiannya sambil mengeluh.

"Ya, Allah, sudah pukul setengah sembilan. Aku pasti terlambat lagi."

Dan berikutnya suara gemerisik pakaiannya, keriut sepatunya terantuk-antuk kursi atau meja akan mengiringi kesibukan paginya.

"Sybil! Sybil!" dia berteriak.

'Yaaaa."

"Di mana kau?"

"Di sini. Di dapur."

"Kopiku sudah?"

"Tidak ada kopi. Habis."

"Habis?"

Bibirnya dikatupkannya untuk meratakan lipstick-nya dan tok-tok-tok si ibu bergegas ke dapur.

"Habis, katamu?"

"Ya."

"Mengapa tidak kaubilang semalam, Dungu?"

"Aku lupa. Maaf."

"Lupa. Enak saja lupa. Masa anak perempuan, sudah lima belas tahun, dikasih kewajiban bikin kopi saja tidak becus."

Sybil diam. Matanya menatap keluar jendela. Dua ekor burung gereja sedang asyik bercumbu.

"Kau memang suka kalau aku pening kepala pagi-pagi begini, ya?"

Sybil tersenyum karena seekor burung gereja datang lagi dan bertiga beramai-ramai saling bercumbu.

"Dasar anak sial. Uuuuh."

Pening kepalanya terasa lagi. Lupa atau tidak peduli bahwa hari memang sudah siang, si ibu duduk di kursi, kedua tangannya memijit-mijit kepala. Sebentar kemudian, heeeek, dia pun bersendawa.
Bau whisky menerobos keluar dari mulutnya, meskipun pagi tidak lupa berkumur. Kemudian, seperti tiba-tiba ingat sesuatu dia membalikkan kepala ke arah anaknya yang sedang asyik saja menatap ke luar jendela.

"Sybil!"

"Ya."

"Jangan dikira aku tidak tahu, ya?"

"Tidak tahu apa?"

"Ka minum whisky-ku lagi. Aku tahu isinya berkurang semalam. Ayo, mengaku kau, anak har...!"

"Tapi, tapi..."

"Apa tapi?"

"Tapi aku cuma menjilat sedikit saja."

"Bohong! Paling sedikit setengah seloki. Aku heran kenapa kau tidak mampus. Itu straight whisky yang kau minum."
Sybil diam.

"Kenapa, kenapa kaucoba minum?"

"Chip mengejekku kemarin."

"Chip Henderson?"

"Ya. Dia bilang aku penakut."

"Hm. Lalu siapa yang mengisap cerutu?"

Sybil tidak menjawab.

"Ha, jangan dikira aku tidak tahu cerutuku hilang satu. Ayo, siapa? Chip, Chuck, Jimmy, siapa?"

"Aku."

"Kau, Sybil, Sybil. Anak perempuan apa kau ini?"

"Tapi aku selalu ingin mengisap cerutu. Tiap kali Harry..."

"Mr. Robertson."

"Maaf. Tiap kali Mr. Robertson mengisap cerutu malam-malam sebelum tidur di kamarmu..."

"He, he, tutup mulutmu, Setan!"

"Tapi, Mommy, bukankah dia selalu tidur di kamarmu tiap kali dia kemari?"

"Sudah, sudah. Aku harus kerja sekarang. Ini satu dolar buat lunch dan jajanmu."

"Terima kasih."

"Berjanjilah, Sybil, kekasihku, biji mataku."

"Apa?"

"Jangan minum whisky dan mengisap cerutu lagi.

Please?"

"O.K."

"Mau main ke mana kau hari ini?"

"Oh, tak tahulah. Anak-anak pergi ke camp musim panas ini. Kenapa aku tidak Ibu kirim ke camp seperti mereka?"

"Tetapi, Sybil, kau tahu berapa gajiku sebagai pelayan restoran?"

"Ya, ya."

"Mungkin tahun depan. Siapa tahu."

Dan dengan bergegas si ibu berjalan ke luar apartemen, turun lima puluh tujuh tangga, terus ke jalan membelok di tikungan.
Musim panas tidak pernah menyenangkan di New York. Sudah seminggu berturut-turut panasnya mencapai pukul rata 90 derajat F. Mereka, yang tidak punya airconditioning atau kipas angin, membuka pintu rumah dan jendela lebar-lebar, mengharap-harap ada sedikit angin yang bisa menerobos masuk. Ternyata usaha itu tidak menolong banyak. Dan di mana-mana orang mengeluh bahwa musim panas tahun ini jauh lebih panas daripada tahun lalu.

Sybil kepanasan di dapur. Buru-buru dihabiskannya mata sapi dan toast-nya serta diteguknya susu dari gelas.
Kemudian di kamar, digantinya bajunya dengan blouse tidak berlengan serta celana Bermuda yang rada kependekan. Dikenakannya sepatu putih karet tanpa kaus dan siaplah. Siap ke mana? Itulah yang kemudian dipikirkannya.
Disisipkannya uang sedolar dari ibunya ke dalam saku celananya dan pelan-pelan dia pun keluar meninggalkan apartemennya. Sambil melompat-lompat turun tangga dia melagu: ke-ma-na, ke-ma-naaa. Tiap sampai pada ke-ma-naaa, dia agak heran dan terkejut karena keluarnya keras sekali. Tetapi suara itu entah bagaimana penjelasannya memberikan perasaan yang menyenangkan.

"Hello, Sybil."

"Hai."

Dan Sybil terus berjalan tidak ingat lagi dengan siapa dia bersalam. Jalan tempat dia tinggal tidak berpohon.
Mobil-mobil berderet diparkir di kiri dan kanan jalan. Satu dua orang tampak menyeret kereta yang penuh dengan bungkusan belanjaan dari supermarket. Seekor anjing pincang berjingkat-jingkat menyeberang jalan.

"Ke-ma-na, ke-ma-na, ke-ma-naaa."

"Sybil, Sybil."

"Ke-ma-na, ke-ma..."

Sybil menoleh. Tampaknya Nyonya Johnson melambai-lambaikan tangannya, memberi isyarat agar Sybil mau ke rumahnya.

"Sybil, kau tentu mau menolongku."

"Hai, Nyonya Johnson."

"Hai Sybil, kau tentu mau menolongku."

"Menolong apa?"

"Aku mau titip Susan sampai nanti sore."

"Nyonya mau ke mana?"

"Oh, aku harus pergi untuk urusan penting, Susan tidak mungkin aku ajak."

Waktu Sybil tidak memberikan suatu reaksi, Nyonya Johnson meneruskan.

"Ajaklah ke mana kau suka. Ke park, ke kali, ke bioskop, ke rumahmu, suka hatimulah. Cuma, jangan lupa kasih dia makan. Ini satu dolar buat makan Susan dan ini tiga dolar buat kau. Aku akan pulang antara pukul tiga dan empat. Di mana kau dan Susan akan berada pada jam itu? Di sini, di rumahku, atau di rumahmu?"

Sybil sambil memasukkan uang ke dalam saku, acuh tak acuh menjawab, "Oh, tak tahulah, Nyonya Johnson. Mungkin di sini, mungkin di rumahku."

"Baiklah, kalau tidak aku temui kalian di sini, tentulah kalian di rumahmu. Susan, Susan! Kemarilah kau."

Seorang anak perempuan kira-kira berumur enam tahun keluar dari dalam rumah.

"Sedang apa kau?"

"Nonton TV bersama Mr. Rodd."

"Kau akan main dengan Sybil hari ini. Ibu harus pergi sampai nanti sore. Kalau lapar, Sybil akan belikan makananmu nanti."

"Hai, Sybil," salam Susan.

"Hai, Susan."

Nyonya Johnson masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Tidak seberapa lama dia pun keluar, memberikan instrusi-instruksi kepada Sybil, dan kemudian pergilah dia.

"Sybil, ke mana kita hari ini?"

"Oh, tak tahulah."

"Ke rumahmu nonton TV? Main fish?
Kau tahu main fish? Aku pandai main fish. Nanti aku ajari kau.
Kau punya kartu, bukan? Kalau enggak punya nanti biar pakai kartu bapakku. Biar aku ambil sekarang, ya, Sybil?"

"Tunggu, tunggu dulu, Susan. Kita tidak pergi ke rumahku, kita tidak tinggal di sini, dan kita tidak main fish."

Oh. Kita pergi jauh?"

"Ya, ya jauh."

"Jauh sekali?"

"Oh, bagus, bagus. Aku suka pergi jauh. Ke mana, Sybil, bilanglah."

"Oh, jauh. Ayo, kita berangkat sekarang."

"Tapi, tunggu dulu."

"Kenapa?"

"Karena pergi jauh, aku mesti ajak Mr. Todd."

"Siapa Mr. Todd?"

"Mr. Todd. Anjing-anjingku. Tunggu sebentar aku ambil dia."

"Tapi, Susan..."

Akan tetapi Susan sudah berlari ke dalam, mengambil Mr. Todd. beberapa menit kemudian, dia ke luar melompat-lompat kegirangan dengan Mr. Todd. Mr. Todd adalah anjing-anjingan yang cantik. Pakai jas coklat dan dasi kupu-kupu merah, dan celana biru serta sepatu.

"O.K. Sybil, aku dan Mr. Todd sudah siap sekarang."

Tanpa berkata sesuatu, Sybil menarik tangan Susan. Mereka terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Di dekat tikungan jalan, kira-kira setengah kilometer dari tempat mereka berangkat, ada tanda pemberhentian bus. Sybil berhenti.

"Kita mau ke mana Sybil? Naik bus?"

"Ya, naik bus."

"Aduh senangnya, naik bus. Ke mana, Sybil?"

Sybil tidak menjawab. Oleh karena sinar matahari menyilaukan matanya, tangannya diangkat ke dahi buat melindungi matanya.

"Sybil, aku kepingin lolly. Kau ada uang dari Ibu, kan?"

"Ya, ya, ada."

Namun, Sybil tidak bergerak, matanya mengawasi jalanan, melihat-lihat kalau-kalau bus sudah mulai kelihatan.

"Sybil, aku mau lolly sekarang. Aku mau maan lolly dalam bus."

"Nah, itu busnya sudah kelihatan."

"Tapi, Sybil, lolly, lolly."

"Nanti saja, busnys sudah dekat, itu."

"Lolly, Sybil, lolly."

"O.K., O.K."

Dan Sybil buru-buru lari ke warung candy membeli dua lolly, buru-buru lagi ke pemberhentian bus. Diseretnya Susan karena hampir saja mereka terlambat masuk ke dalam bus. Bus menderu dan Susan - sambil menjilat-jilat lolly-nya -- melihat rumah-rumah bagaikan berlarian di balik jendela.

"Aku senang naik bus. Aku benci subway.
Di subway kau tidak bisa apa-apa. Dengan bus kau bisa lihat apa saja.
Rumah, rumah, rumah, supermarket, restoran, drugstore, warung candy, rumah, rumah, restoran,cafetaria, uuuupp ..."

"Susan! Duduk baik-baik. Jatuh baru tahu, kau! Nah, begitu."

"Rumah, rumah, cafetaria, hot dog, hamburger, hot dog, pizza, coke, coke. Sybil, aku lapar. Kau ada uang dari ibuku, kan?"

"Tapi Susan, kita dalam bus sekarang."

"Aku lapar, Sybil."

"Sebentar lagi kita sampai."

"Sampai di mana?"

"Di park dekat pantai. Kau lihat rumah bertingkat di ujung itu? Di sana kita berhenti."

"Kita bisa beli hamburger di sana?"

"Ya."

"Dengan root beer."

"Ya, dengan root beer."

Akhirnya bus sampai pada pemberhentian di dekat park itu. Sybil dan Susan turun dan masuk ke dalam sebuah cafetaria di dekat pemberhentian itu. Sybil mengusulkan agar hamburger serta root beer itu dibawa saja dan dimakan di pinggir pantai.

Susan kegirangan mendengar itu.

"Aku nanti boleh main ayunan, ya, Sybil?"

"Kita akan duduk di dekat pantai."

"Duduk sja?"

"Ya, duduk."

Hari yang amat panas ternyata telah mengundang beratus orang berteduh dalam park itu. Pohon-pohonan yang rindang serta angin pantai yang sejuk, setidak-tidaknya untuk sementara, akan bisa mengobati keparahan panas yang berhari-hari terus saja menekan. Sybil menggandeng Susan menjauhkan diri dari bising orang-orang. Di pinggir pantai, di bawah sebuah pohon, mereka temukan sebuah bangku.

"Duduk, Susan."

"Di sini?"

"Di mana lagi, Dungu. Ini makan hamburger-mu. Ini root beer-mu."

Mereka makan dengan diam. Di muka mereka, East River dan di belakangnya, Pulau Manhattan.

"Itu East River dan itu Manhattan, Susan."

"itu New York, City, Sybil.
Bapakku kerja di situ."

"New York City ada di Manhattan."

"Ibuku tidak pernah bilang begitu."

"Ibumu tolol. Itu jauh di sana, itu Empire State Building. Yang ada di pinggir sana itu gedung U.N."

"Itu rumah pamanku, Harris, Sybil.
Dan itu rumah kami yang sedang dibangun. Aku dan Mr. Todd akan mendapat kamar paling atas."

"Apakah ibumu yang cerita begitu?"

"Ya."

"Ibumu adalah seorang genius."

"Sybil."

"Ya."

"Betulkah kau tidak punya bapak?"

"Ibumu lagi yang bilang begitu?"

"Ya."

"Ibumu adalah seorang genius."

"Apakah genius itu? Kau suka betul bilang itu."

"Tidak, tidak apa-apa."

"Apa? Bapakmu?"

"Tidak, tidak betul. Tentu saja aku punya bapak. Tiap orang ada Bapak."

"Dia tinggal bersamamu?"

"Ya. Cuma dia kerja mulai pagi sekali sampai larut malam."

"Jadi, kau tidak pernah ketemu bapakmu?"

"Kadang-kadang kalau malam-malam aku terbangun. Aku akan melihat bapakku duduk mengisap cerutu."

Tetapi di muka Sybil terbayang harry Robertson yang mengisap cerutu di kamar ibunya. Sebuah perasaan aneh menyelinap di dadanya.

"Sybil."

"Ya."

"Aku masih lapar. Kau masih ada uang dari ibuku, kan?"

"Ya, ya, masih. Ibumu memberi aku berpuluh dolar."

"Belikanlah aku hamburger dengan irisan bawang yang gede."

Sybil memandang wajah Susan lama-lama.
Setan kecil! Tiba-tiba satu senyum yang aneh membuat bibir Sybil agak mencong.

"Ayolah, Sybil, belikan."

"Susan, aku ada usul."

"Apakah itu?"

"Mari kita main rampok-rampokan.
Aku jadi perampoknya. Kau akan aku ikat tangan dan kakimu. Matamu akan kututup dengan saputangan, begitu juga mulutmu."

"Kenapa mesti semuanya diikat begitu?"

"Supaya kau tidak bisa apa-apa. Bukankah perampok mesti jahat?"

"Lantas?"

"Lantas aku akan pergi. Kau lalu akan minta tolong. Kemudian aku akan datang dengan hamburger, menolong kau. O.K.?"

"Kedengarannya menarik juga. Ayolah, kita coba!"

Dengan sebat Sybil mengikat kaki dan tangan Susan serta menyumbat mulut dan menutup matanya. Dilambaikannya tangannya kepada Susan dan menyelinaplah Sybil ke dalam park.

Hari sudah pukul dua siang waktu Susan tidak kuasa lagi mencoba bilang "help".

Dengan segelas susu Sybil melihat TV di kamarnya. Jam berdenting tiga kali. Hari membakar dengan semena-mena.

"Kaukah itu, Sybil?"

"Ibu?"

"Ya."

Ibu Sybil merah kepanasan, masuk diiringi Harry Robertson.

"Hai, Sybil."

"hai, Harr..., eh, Mr. Robertson.
Baru pukul tiga sudah pulang?"

"Aku sakit, Kekasihku. Mr. Robertson sudah berbaik hati mau mengantarkan aku pulang."

"Oh."

"Tapi kau kelihatan lesu dan capek, Sybil. Seharian kau di rumah saja? He, aku ada pikiran. Kenapa kau tidak pergi nonton ke Strand. Aku lihat lakonnya bagus. The Curse of the Werewolf. Hhhrrrr. pergilah dan ceritakan nanti malam padaku. Ini uang sedolar."

Sybil menerima uang itu dan melihat wajah ibunya dan Harry berganti-ganti.

"Mr. Robertson?"

"Ya, Sybil."
Kembali Ke Atas Go down
 
sybill
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: puisi / cerpen-
Navigasi: